MAKALAH
Pengolahan hasil hewani (PHH)
“Perubahan susu pasca pemerahan
susu”
DISUSUN OLEH
NAMA :
MUKOSIM
KELAS
: XI Agro Industri
MATA
PELAJARAN : Produksi Hasil Hewani
GURU PEMBIMBING : Ida Susanti S.pd
SMKN Pertanian Terpadu Provinsi Riau
Tp.2018/2019
KATA PENGANTAR
Assalammualaikum wr.wb
Puji
syukur Saya panjatkan ke hadirat Allah SWT. atas karunia-Nya sehingga Makalah
Pengolahan Hasil Hewani (PHH) tentang “Peruahan Susu Pasca Pemerahan Susu” ini
dapat saya selesaikan.Shalawat serta salam tidak lupa pula kita ucapkan kepada
junjungan kita yakninya Nabi Muhammad Saw. Tidak lupa juga Saya sampaikan
terima kasih kepada Ibu Ida Susanti selaku pembimbing mata pelajaran Pengolahan
Hasil Hewani (PHH) ini, atas bimbingannya selama ini dan teman-teman yang telah
memberikan dukungan serta saran demi terwujudnya makalah ini.
Makalah ini berisi tentang “Perubahan Susu
Pasca Pemerahan Susu”,ulasan yang Saya sediakan ini semoga dapat menambah
wawasan sehingga memperjelas pembahasan materi. Saya harap, makalah yang Saya
susun ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua terutama menambah
pengetahuan tentang hal yang diulas di dalamnya. Selain itu, seperti kata
pepatah ” tak ada gading yang tak retak”, begitupun makalah
ini masih jauh dari sempurna. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi para pembacanya. Sekian, terima kasih!
Wassalammuaikum wr. wb.
Penulis
(MUKOSIM)
DAFTAR ISI
Cover/Judul.................................................................................................................................i
Kata Pengantar...........................................................................................................................ii
Daftar
Isi...................................................................................................................................iii
BAB I(Pendahuluan)..........................................................................................................1
A.Latar Belakang.......................................................................................................................1
B.Tujuan.....................................................................................................................................1
BAB II(Pembahasan).............................................. ....................................................2
A.Pengertian
Susu......................................................................................................................2
B.Proses
Pemerahan
Susu..........................................................................................................2
C.Penangan
dalam pemerahan
susu...........................................................................................4
D.Susu
sebagai bahan
makanan.................................................................................................5
E.Sifat
fisik dan kimia air
susu...................................................................................................6
1.Sifat
Fisik....................................................................................................................6
2.Sifat
Kimia..................................................................................................................7
F.Manfaat
air
susu......................................................................................................................9
G.Pengolahan
Susu...................................................................................................................12
1.Teknologi Pengolahan
Susu......................................................................................13
2.Pembuatan Mentega Dari Susu.................................................................................13
3.Pembuatan Keju Dari
Susu.......................................................................................14
4.Pembuatan Yoghurt Dari Susu..................................................................................15
BAB III(Penutup)..............................................................................................................17
A.Kesimpulan...........................................................................................................................17
B.Saran.....................................................................................................................................17
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang
Susu adalah bahan pangan yang dikenal kaya
akan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia. Konsumsi susu pada saat
remaja terutama dimaksudkan untuk memperkuat tulang sehingga tulang lebih
padat, tidak rapuh dan tidak mudah terkena risiko osteoporosis pada saat usia
lanjut. Pada susu juga terkandung zat-zat gizi yang berperan dalam pembentukan
tulang seperti protein, fosfor, vitamin D, vitamin C dan besi. Selain zat-zat
gizi tersebut, susu juga masih mengandung zat-zat gizi penting lainnya yang
dapat meningkatkan status gizi.
Untuk mengimbangi pertumbuhan dan
perkembangan yang cepat, tubuh memerlukan zat gizi yang lebih banyak dan lebih
berkualitas, sehingga apabila tidak di imbangi dengan pola konsumsi pangan yang
sehat, masa remaja dapat menjadi masa yang rawan gizi. Salah satu
zat gizi yang diperlukan pada masa remaja ini adalah kalsium. Menurut
Khomsan (2004), retensi kalsium pada remaja pria tiga kali lipat lebih tinggi
dibandingkan pada masa usia pra sekolah. Pada masa pra usia sekolah retensi
kalsium sebagai tulang adalah sebesar 100 mg/hari.
Pada usia remaja terjadi
pembentukan jaringan tulang. Massa jaringan tulang total pada tubuh 45%
terbentuk pada saat remaja dan puncak kepadatan tulang dicapai pada saat remaja
akhir Masa pertumbuhan tulang sangat membutuhkan zat kalsium yang
terutama dapat diperoleh dari susu sebagai sumber utama
kalsium (Matkovic et al . 1994). Selain itu, masa remaja dapat
dianggap sebagai masa terakhir dalam perbaikan gizi yang optimal, karena
setelah melewati masa ini, perbaikan gizi sebagian besar hanya bermanfaat untuk
mempertahankan kebugaran tubuh.
Seseorang yang mengonsumsi susu dalam
jumlah yang rendah pada saat anak-anak dan remaja, memiliki risiko kurangnya
kepadatan tulang dan terjadinya osteoporosis pada saat dewasa dan lanjut usia
(Kalkwarf et al. 2003). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Volek et al.
(2003) dengan pemberian susu dan jus buah selama 12 minggu pada dua kelompok
remaja putra yang sedang mengikuti pelatihan olahraga, menunjukkan bahwa pada
kelompok yang diberi susu tercatat secara nyata memiliki asupan kalsium dan
kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada kelompok yang diberi jus buah. Pada
remaja wanita, yang diteliti oleh Cadogan et al. (1997), menunjukkan bahwa
pemberian minuman susu juga secara nyata dapat meningkatkan kepadatan tulang,
akan tetapi tidak menambah berat badan atau lemak tubuh.
Di Indonesia, pada moto gizi empat sehat lima
sempurna, susu terletak pada urutan paling terakhir yaitu pada kelompok lima
sempurna. Hal ini karena susu masih dianggap barang mahal dan masih sulit
dijangkau oleh masyarakat banyak. Kondisi ini dapat dilihat dari konsumsi susu
yang masih rendah, yaitu hanya 5,10 kg/orang/tahun (Khomsan 2004). Sementara
itu, ukuran per saji untuk konsumsi susu sampai saat ini di Indonesia belum
baku. Ukuran per saji secara komersial yang ada saat ini adalah berkisar antara
180 ml dan 250 ml. Di dalam anjuran jumlah per saji menurut kecukupan energi,
juga belum tercantum untuk kelompok umur 16-18 tahun dan 19-26 tahun untuk
bahan pangan susu (Depkes 2002).
B.Tujuan
- Mengetahui
proses pemerahan susu
- Mengetahui
cara penanganan susu yang baik dan benar
- Pengolahan
yoghurt
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Susu
Susu adalah cairan bergizi berwarna putih yang
dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia betina. Susu juga dapat diolah menjadi
berbagai macam produk seperti yogurt, es krim, keju, mentega, susu kental
manis, susu bubuk dan lain- lainnya untuk di konsumsi manusia. Susu memiliki
banyak fungsi dan manfaat. Untuk anak dalam masa umur produktif, susu membantu
pertumbungan mereka. Sementara itu, untuk orang lanjut usia, susu membantu
menopang tulang agar tidak keropos. Susu mengandung banyak vitamin dan protein.
Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan minum susu.
Air susu yang banyak
menyebar dan dikenal dipasaran adalah air susu sapi. Sebenarnya air susu
kambing dan kerbau tidak kalah nilai gizinya dibandingkan dengan air susu sapi.
Hanya karena faktor kebiasaan dan ketersediaannya maka air susu sapi lebih
menonjol dipasaran.Beberapa daerah di Indonesia telah memanfaatkan susu kambing
dan kerbau yaitu didaerah Sumatera Utara,Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan.
Bahkan dinegara lain susu kambing telah dianjurkan oleh dokter-dokter dan
digunakan untuk pengobatan rumah tangga sejak dulu.
Susu merupakan bahan makanan yang mudah rusak sehingga
perlu mendapatkan perawatan secara khusus. Oleh sebab itu, penting banget nih
untuk memperhatikan proses pengolahan susu dari awal pemerahan sampai siap untu
di konsumsi. Nah berikut ini adalah proses pengolahan susu pasca pemerahan:
B.Proses
Pemerahan
Setelah
mendapatkan susu hasil perahan, bawa susu hasil perahan tersebut untuk kemudian
disaring. Penyaringan harus dilakukan segera untuk mencegah kuman kuman yang
terdapat dalam air susu berkembang biak lebih lanjut. Bagaimana ya cara memerah
yang baik? Kurang lebihnya dijelaskan pada gambar di bawah ini.
1.Saring susu terlebih dahulu.
2. Setelah disaring, lakukan penakaran apabila ingin mengetahui jumlah
produksi.
3. Kemudian, susu hasil perahan tersebut dicampur perlahan- lahan sampai
menjadi campuran air susu yang homogen.
4. Selanjutnya, air susu dialirkan ke alat pendingin. Untuk pendinginan,
diperlukan suhu 10- 15 C selama 2- 3 jam. Pendinginan air susu bertujuan untuk
menghambat pertumbuhan bakteri sehingga air susu sapi bertahan lama. Disamping
itu, bisa juga melakukan pasteurisasi terlebih dahulu sebelum dialirkan ke alat
pendingin agar organisme atau bakteri yang merugikan bisa mati.
5. Secara sederhana, pendinginan bisa dilakukan dengan menempatkan botol-
botol air susu atau susu yang sudah dibungkus dalam kantong plastik, kemudian
dimasukkan ke dalam bak yang berisi es. Sementara itu, pasteurisasi sederhana
dapat dilakukan dengan cara merebus air susu di atas kompor pada temperatur 74
C selama 6 menit.
6. Setelah proses pendinginan atau pasteurisasi selesai, susu boleh
dimasukkan kedalam botol- botol untuk dikirim ke konsumen.
7. Susu yang tidak melewati tahap pendinginan atau pasteurisasi sebelum
dimasukkan kedalam botol akan memiliki kualitas yang rendah serta mudah rusak.
Gambar
Penanganan pemerahan susu sapi
Banyak jenis bahan makanan
yang dapat dibuat dari bahan baku susu. Adapun prinsip dasar dari pengolahan
air susu adalah pasteurilisasi dan sterilisasi. Apabila tidak dilakukan dengan
sempurna maka air susu dikhawatirkan akan terkontaminasi. Terlebih-lebih bila
alat penyimpan air susunya (milk can) tidak dibebas hamakan terlebih dahulu.
Kontaminasi air susu dapat terjadi karena :
1. Cara pemerahan yang tidak hygienis, antara lain :
a. Tidak menggunakan kandang perah yang bersih, sehingga berbau.
b. Tidak menggunakan alat perah yang bebas hama, seperti milk can.
c. Ternak tidak dibersihkan dari kotoran, terutama bagian yang berdekatan dengan anus dan ambing.
d. Tangan pemerah tidak dibersihkan terlebih dahulu.
e. Cara memerah yang salah dan
f. Sapi dan pemerah sakit.
2. Penyimpanan air susu pada can yang berkaitan dengan bau ruangan, keadan debu, temperatur dan kelembaban ruangan.
3. Pengolahan air susu.
4. Trasportasi air susu.
Pengolahan air susu sapi dimaksudkan untuk mendiversifikasikan air susu sapi menjadi bahan makanan dalam berbagai bentuk. Selain itu untuk menghindari agar air susu sapi tidak menjadi mubazir atau terbuang percuma. Sebagaimana kita ketahui bahwa air susu sapi murni hanya mampu bertahan dalam waktu kurang dari 24 jam. Lewat dari batas waktu tersebut kalau tidak bisa memanfaatkannya, maka air susu akan terbuang percuma dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit nilainya.
Diversifikasi air susu sapi ini bisa dikelola secara home industri maupun secara besar-besaran, dan sudah barang tentu untuk kedua ini diperlukan peralatan yang serba praktis dan modern, agar diperoleh hasil yang maksimal. Tetapi kalau untuk keperluan keluarga kecil cukup dengan alat sederhana yang alat-alatnya bisa diperoleh dari sekeliling kita dengan harga murah, seperti diperlukan es batu dan beberapa kotak dari aluminium yang berfungsi sebagai tempatnya.
Selain air susu sebagai bahan makanan sangat penting artinya bagi manusia dan ternak, air susu juga merupakan media dari penyebaran penyakit zoonosis, yaitu penyakit primer manusia dan penyakit primer hewan yang penyebarannya dapat secara timbal balik. Oleh karena itu, pemeriksaan kualitas air susu sebelum dimanfaatkan atau sebelum pengolahan sangat perlu untuk kesehatan konsumen.
1. Cara pemerahan yang tidak hygienis, antara lain :
a. Tidak menggunakan kandang perah yang bersih, sehingga berbau.
b. Tidak menggunakan alat perah yang bebas hama, seperti milk can.
c. Ternak tidak dibersihkan dari kotoran, terutama bagian yang berdekatan dengan anus dan ambing.
d. Tangan pemerah tidak dibersihkan terlebih dahulu.
e. Cara memerah yang salah dan
f. Sapi dan pemerah sakit.
2. Penyimpanan air susu pada can yang berkaitan dengan bau ruangan, keadan debu, temperatur dan kelembaban ruangan.
3. Pengolahan air susu.
4. Trasportasi air susu.
Pengolahan air susu sapi dimaksudkan untuk mendiversifikasikan air susu sapi menjadi bahan makanan dalam berbagai bentuk. Selain itu untuk menghindari agar air susu sapi tidak menjadi mubazir atau terbuang percuma. Sebagaimana kita ketahui bahwa air susu sapi murni hanya mampu bertahan dalam waktu kurang dari 24 jam. Lewat dari batas waktu tersebut kalau tidak bisa memanfaatkannya, maka air susu akan terbuang percuma dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit nilainya.
Diversifikasi air susu sapi ini bisa dikelola secara home industri maupun secara besar-besaran, dan sudah barang tentu untuk kedua ini diperlukan peralatan yang serba praktis dan modern, agar diperoleh hasil yang maksimal. Tetapi kalau untuk keperluan keluarga kecil cukup dengan alat sederhana yang alat-alatnya bisa diperoleh dari sekeliling kita dengan harga murah, seperti diperlukan es batu dan beberapa kotak dari aluminium yang berfungsi sebagai tempatnya.
Selain air susu sebagai bahan makanan sangat penting artinya bagi manusia dan ternak, air susu juga merupakan media dari penyebaran penyakit zoonosis, yaitu penyakit primer manusia dan penyakit primer hewan yang penyebarannya dapat secara timbal balik. Oleh karena itu, pemeriksaan kualitas air susu sebelum dimanfaatkan atau sebelum pengolahan sangat perlu untuk kesehatan konsumen.
D.Air Susu Sebagai Bahan Makanan
Air susu merupakan bahan makanan utama bagi makhluk yang baru lahir, baik bagi hewan maupun manusia. Sebagai bahan makanan/minuman air susu sapi mempunyai nilai gizi yang tinggi, karena mengandung unsur-unsur kimia yang dibutuhkan oleh tubuh seperti Calsium, Phosphor, Vitamin A, Vitamin B dan Riboflavin yang tinggi. Komposisinya yang mudah dicerna dengan kandungan protein, mineral dan vitamin yang tinggi, menjadikan susu sebagai sumber bahan makanan yang fleksibel yang dapat diatur kadar lemaknya, sehingga dapat memenuhi keinginan dan selera konsumen.
Air susu termasuk jenis bahan pangan hewani, berupa cairan putih yang dihasilkan oleh hewan ternak mamalia dan diperoleh dengan cara pemerahan (Hadiwiyoto, S., 1983). Pada saat ini di Sumatera Utara susu dihasilkan di Kabupaten Deli Serdang, Simalungun, Binjai dan Medan. Untuk pulau Jawa, susu dihasilkan dan diproses antara lain di daerah Jawa Barat yaitu Lembang dan ujung berung, Jawa Tengah yaitu di Semarang, Ungaran dan Boyolali serta di Jawa Timur yaitu di Pujon, Nongko jajar, Batu dan Grati. Di Amerika Serikat, wilayah-wilayah utama penghasil susu terletak didekat kawasan urban atau perkotaan yang padat penduduk. Negara bagian Amerika Serikat yang merupakan pengahasil susu utama adalah Wisconsin, California, New York, Minnesota, Pensylvania, Michican, Ohio dan Iowa. Produksi susu total di Amerika Serikat senantiasa mengikuti perkembangan jumlah penduduk. Hal ini dimungkinkan karena meningkatnya produksi susu tiap ekor serta menurunnya konsumsi susu dan produk susu (dari 325 kg/kapita pada tahun 1950 menjadi 250 kg pada saat sekarang). Sejak tahun 1950, produksi susu tiap ekor sapi telah berlipat dua, yaitu antara 4500 sampai 5400 kg susu perekor/tahun sebagai tingkat produksi yang umum. Banyak sapi yang istimewa yang dapat menghasilkan 13.500 kg susu/tahun.
Pada zaman 9000 sebalum masehi susu sapi digunakan untuk makanan, persembahan, korban, kosmetika dan obat di Amerika Serikat. Masyarakat India menghasilkan mentega untuk keperluan pangan dan persembahan suci sejak 2000 tahun sebelum masehi, sedangkan di Mesir, masyarakat telah memanfaatkan susu, keju dan mentega sejak 3000 tahun sebelum Masehi (Blakely, J dan David, H.B., 1991).
Produksi dan konsumsi daging, telur dan susu dari tahun 1996 hingga tahun 2000 dapat dilihat pada Tabel 2. Menurut target atau rekomendasi kecukupan gizi yang diperbaharui pada tahun 1978, orang Indonesia seyogyanya mendapatkan 5 gram protein hewani sehari dalam makanannya, dan dari 5 gram tersebut susu merupakan salah satu sumbernya.
Ada dua pendapat perihal kebiasaan minum susu orang Indonesia. Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Indonesia termasuk bukan milk drinker. The Javanese (Indonesians) are traditionally rice eater, the are eager to consume milk,if they can afford to buy it. Jadi pendapat kedua tersebut mendasar suatu pandangan bahwa masalah kebiasaan tersebut adalah soal pendidikan, ekonomi dan persediaan.
Suatu cara penyuluhan yang baik adalah penggunaan istilah “empat sehat lima sempurna”, dimana unsur kelimanya adalah air susu. Penggunaan slogan tersebut adalah untuk membuat masyarakat “sadar-gizi”’ tetapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana membuat masyarakat agar “mampu-gizi”, sehingga gizinya dapat terpenuhi secara teratur sesuai dengan daya belinya.
Pemanfaatan kambing di Indonesia baru terbatas sebagai penghasil daging, sedangkan sebagai penghasil susu masih sedikit. Di lain pihak impor susu masih lebih tinggi dari produksi susu dalam negeri, sedangkan gizi susu kambing tidak banyak berbeda dari susu sapi, karena perlu suatu tindakan untuk memanfaatkan susu kambing guna memenuhi kebutuhan susu. Selain itu perlu diterapkan teknologi yang dapat merubah susu kabing menjadi hasil olahan yang mungkin lebih disukai masyarakat dari pada susu segar.
Susu kambing terkenal karena kandungan atau nilai nutrisi dan nilai medisnya sejak zaman dahulu. Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Warna susu lebih putih
2. Globul lemak susu lebih kecil dan beremulsi dengan susu dengan susu. Lemak harus dipisahkan dengn mesin pemisah (separator), karena lemak tersebut tidak dengan sedirinya muncul kepermukaan.
3. Lemak susu kambing lebih mudah dicerna
4. Card proteinnya lebih lunak, hingga memungkinkan untuk dibuat keju yang spesial.
5. Susu kambing mengandung mineral: kalsium, fosfor, vitamin A, E, dan B kompleks yang tinggi.
6. Susu kambing dapat diminum oleh orang-orang yang alergi minum susu sapi dan untuk orang-orang yang mengalami berbagai gangguan pencernaan.
7. Air susu kambing tidak mengandung kuman TBC, bahan allergen. Jadi lebih aman penggunaannya sebagai bahan makanan, pengganti ASI.
8. Produksi susu kambing lebih cepat diperoleh
kambing telah dapat
berproduksi pada usia 1.5 tahun, sedangkan sapi baru dapat berproduksi pada
usia 3-4 tahun, tergantung ras.
Bahan yang dapat diambil oleh tubuh dari air susu ialah :
1. Laktose sebagai sumber energi.
2. Protein sebagi bahan penunjang kehidupan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan pergantian sel, dan diambil sebagai bentuk bahan keju, albumin dan globulin.
3. lemak sebagai sumber energi terbaik dibanding lemak produksi hewan lain.
4. Mineral dan vitamin yang diperlukan dalam pencernaan dan metabolisme sebagai katalisator untuk katabiose dan anabiose dan keperluan resistensi tubuh.
Bahan yang dapat diambil oleh tubuh dari air susu ialah :
1. Laktose sebagai sumber energi.
2. Protein sebagi bahan penunjang kehidupan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan pergantian sel, dan diambil sebagai bentuk bahan keju, albumin dan globulin.
3. lemak sebagai sumber energi terbaik dibanding lemak produksi hewan lain.
4. Mineral dan vitamin yang diperlukan dalam pencernaan dan metabolisme sebagai katalisator untuk katabiose dan anabiose dan keperluan resistensi tubuh.
E. SIFAT FISIK DAN KIMIA AIR SUSU
Sebelum membicarakan komposisi air susu, ada baiknya dibicarakan serba singkat tentang sifat-sifat air susu. Sifat susu yang perlu diketahui adalah bahwa susu merupakan media yang baik sekali bagi pertumbuhan mikrobia sehingga apabila penanganannya tidak baik akan dapat menimbulkan penyakit yang berbahaya (“zoonosis”). Disamping itu susu sangat mudah sekali menjadi rusak terutama karena susu merupakan bahan biologik
Air susu selama didalam ambing atau kelenjar air susu dinyatakan steril, akan tetapi begitu berhubungan dengan udara air susu tersebut patut dicurigai sebagai sumber penyakit bagi ternak dan manusia. Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, panas jenis dan kekentalannya. Sedangkan sifat kimia susu yang dimaksud adalah pH dan keasamannya.
SIFAT FISIK AIR SUSU :
1. Warna air susu :
Warna air susu dapat berubah dari satu warna kewarna yang lain, tergantung dari bangsa ternak, jenis pakan, jumlah lemak, bahan padat dan bahan pembentuk warna. Warna air susu berkisar dari putih kebiruan hingga kuning keemasan. Warna putih dari susu merupakan hasil dispersi dari refleksi cahaya oleh globula lemak dan partikel koloidal dari casein dan calsium phosphat. Warna kuning adalah karena lemak dan caroten yang dapat larut. Bila lemak diambil dari susu maka susu akan menunjukkan warna kebiruan.
2. Rasa dan bau air susu :
Kedua komponen ini erat sekali hubungannya dalam menentukan kualitas air susu. Air susu terasa sedikit manis, yang disebabkan oleh laktosa, sedangkan rasa asin berasal dari klorida, sitrat dan garam-garam mineral lainnya. Buckle et al., (1987) menyatakan bahwa cita rasa yang kurang normal mudah sekali berkembang di dalam susu dan hal ini mungkin merupakan akibat dari:
a. Sebab-sebab fisiologis seperti cita rasa pakan sapi misalnya alfalfa, bawang merah, bawang putih, dan cita rasa algae yang akan masuk ke dalam susu jika bahan-bahan itu mencemari pakan dan air minum sapi.
b. Sebab-sebabdari enzim yang menghasilkan cita rasa tengikkarena kegiatan lipase pada lemak susu.
c. Sebab-sebab kimiawi, yang disebabkan oleh oksidasi lemak.
d. Sebab-sebab dari bakteri yang timbul sebagai akibat pencemaran dan pertumbuhan bakteri yang menyebabkan peragian laktosa menjadi asam laktat dan hasil samping metabolik lainnya yang mudah menguap.
e. Sebab-sebab mekanis, bila susu mungkin menyerap cita rasa cat yang ada disekitarnya, sabun dan dari larutan chlor.
Bau air susu mudah berubah dari bau yang sedap menjadi bau yang tidak sedap. Bau ini dipengaruhi oleh sifat lemak air susu yang mudah menyerap bau disekitarnya. Demikian juga bahan pakan ternak sapi dapat merubah bau air susu.
3. Berat jenis air susu :
Air susu mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada air. BJ air susu = 1.027-1.035 dengan rata-rata 1.031. Akan tetapi menurut codex susu, BJ air susu adalah 1.028. Codex susu adalah suatu daftar satuan yang harus dipenuhi air susu sebagai bahan makanan. Daftar ini telah disepakati para ahli gizi dan kesehatan sedunia, walaupun disetiap negara atau daerah mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Berat jenis harus ditetapkan 3 jam setelah air susu diperah. Penetapan lebih awal akan menunjukkan hasil BJ yang lebih kecil. Hal ini disebabkan oleh :
a.perubahan kondisi lemak
b. Adanya gas yang timbul didalam air susu
4. Kekentalan air susu (viskositas)
Seperti BJ maka viskositas air susu lebih tinggi daripada air. Viskositas air susu biasanya berkisar 1,5 – 2,0 cP. Pada suhu 20°C viskositas whey 1,2 cP, viskositas susu skim 1,5 cP dan susu segar 2,0 cP. Bahan padat dan lemak air susu mempengaruhi viskositas. Temperatur ikut juga menentukan viskositas air susu. Sifat ini sangat menguntungkan dalam pembuatan mentega.
5. Titik beku dan titik cair dari air susu :
Pada codex air susu dicantumkan bahwa titik beku air susu adalah –0.5000 C. Akan tetapi untuk Indonesia telah berubah menjadi –0.5200 C. Titik beku air adalah 00 C. Apabila terdapat pemalsuan air susu dengan penambahan air, maka dengan mudah dapat dilakukan pengujian dengan uji penentuan titik beku. Karena campuran air susu dengan air akan memperlihatkan titik beku yang lebih besar dari air dan lebih kecil dari air susu. Titik didih air adalah 100°C dan air susu 100.16°C. Titik didih juga akan mengalami perubahan pada pemalsuan air susu dengan air.
6. Daya cerna air susu :
Air susu mengandung bahan/zat makanan yang secara totalitas dapat dicerna, diserap dan dimanfaatkan tubuh dengan sempurna atau 100%. Oleh
©2004 Digitized by USU Digital Library 5
karena itu air susu dinyatakan sangat baik sebagai bahan makanan. Tidak ada lagi bahan makanan baik dari hewani terlebih-lebih nabati yang sama daya cernanya denagn air susu.
SIFAT KIMIA SUSU :
Keasaman dan pH Susu : susu segar mempunyai sifat ampoter, artinya dapat bersifat asam dan basa sekaligus. Jika diberi kertas lakmus biru, maka warnanya akan menjadi merah, sebaliknya jika diberi kertas lakmus merah warnanya akan berubah menjadi biru. Potensial ion hydrogen (pH) susu segar terletak antara 6.5 – 6.7. Jika dititrasi dengan alkali dan kataliasator penolptalin, total asam dalam susu diketahui hanya 0.10 – 0.26 % saja. Sebagian besar asam yang ada dalam susu adalah asam laktat. Meskipun demikian keasaman susu dapat disebabkan oleh berbagai senyawa yang bersifat asam seperti senyawa-senyawa pospat komplek, asam sitrat, asam-asam amino dan karbondioksida yang larut dalam susu. Bila nilai pH air susu lebih tinggi dari 6,7 biasanya diartikan terkena mastitis dan bila pH dibawah 6,5 menunjukkan adanya kolostrum ataupun pemburukan bakteri.
F.MANFAAT DAN KOMPOSISI AIR SUSU
Secara alamiah yang dimaksud dengan susu adalah hasil pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya, yang dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai bahan makanan, yang aman dan sehat serta tidak dikurangi komponen-komponennya atau ditambah bahan-bahan lain. Hewan-hewan yang susunya digunakan sebagai bahan makanan adalah sapi perah, kerbau unta, kambing perah (kambing etawah) dan domba. Berbagai sapi diternakkan untuk diperah susunya antara lain Ayrshire, Brown Swiss, Guernsey, Zebu, Sapi Grati, Fries Holand dan turunannya.
Susu yang baik apabila mengandung jumlah bakteri sedikit, tidak mengandung spora mikrobia pathogen, bersih yaitu tidak mengandung debu atau kotoran lainnya, mempunyai cita rasa (flavour) yang baik, dan tidak dipalsukan. Pemeriksaan air susu terhadap pemalsuan akan diuraikan pada Bab IV.
Komponen-komponen susu yang terpenting adalah protein dan lemak. Kandungan protein susu berkisar antara 3 - 5 persen sedangkan kandungan lemak berkisar antara 3 - 8 persen. Kandungan energi adalah 65 kkal, dan pH susu adalah 6,7. Komposisi air susu rata-rata adalah sebagai berikut :
©2004 Digitized by USU Digital Library 6
1. Air (87.90%)
Casein(2.70%)
Lemak (3.45%)
2. Bahan kering (12.10%)
Albumin(0.50%)
Protein (3.20%)
Bahan Kering Laktosa (4.60%)
Tanpa Lemak (8.65%)
Protein (3.20%)
Bahan Kering Laktosa (4.60%)
Tanpa Lemak (8.65%)
Vitamin, enzim,gas (0.85 %)
Komposisi air susu dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya :
Komposisi air susu dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya :
1. Jenis ternak dan keturunannya (hereditas).
2. Tingkat laktasi.
3. Umur ternak.
4. Infeksi/peradangan pada ambing.
5. Nutrisi/pakan ternak.
6. Lingkungan, dan
7. Prosedur pemerahan susu.
Keseluruhan faktor-faktor
ini dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu faktor-faktor yang ditimbulkan oleh
lingkungan, genetik dan management. Untuk lebih jelasnya faktor yang
mempengaruhi komposisi air susu dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Jenis Ternak dan Keturunannya.
Terdapat perbedaan komposisi air susu manusia dan berbagai jenis Ternak, hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Demikian pula meskipun sama sama sapi perah, tetapi jika dari keturunan yang berbeda, hasil dan komposisi susunya juga berbeda. Hal ini dapat dilihat pada
susu kerbau mengandung protein yang paling tinggi. Kemudian diikuti oleh susu kambing, sapi perah, zebu, domba. Kandungan lemak yang paling tinggi juga terdapat pada susu kerbau, diikuti oleh susu sapi zebu, kambing, sapi perah dan domba. Sedangkan susu sapi Jersey mengandung protein dan lemak yang paling tinggi dibandingkan susu sapi jesis lainnya.
3. Tingkat Laktasi :
Komposisi air susu berubah pada tiap tingkat laktasi. Perubahan yang terbesar terjadi pada saat permulaan dan terakhir periode laktasi.
Kolostrum : Sekresi pertama setelah proses kelahiran. Komposisinya sangat berbeda dengan komposisi susu sapi Fries Holland. Pada kolostrum terkandung :
1.Konsentrasi zat padatnya lebih tinggi
2.Casein, protein whey (terutama globulin), garam mineral lebih tinggi (Ca, Mg, P, Cl lebih tinggi, Potasium lebih rendah)
3.Laktosa lebih rendah
4.Lemak bisa lebih tinggi bisa lebih rendah.
4. Umur Ternak :
Pada umumnya sapi berumur 5 – 6 tahun sudah mempunyai produksi susu yang tinggi tetapi hasil maksimum akan dicapai pada umur 8 – 10 tahun. Umur ternak erat kaitannya dengan periode laktasi. Pada periode permulaan produksi susu tinggi tetapi pada masa-masa akhir laktasi produksi susu menurun. Selama periode laktasi kandungan protein secara umum mengalami kenaikan, sedangkan kandungan lemaknya mula-mula menurun sampai bulan ketiga laktasi kemudian naik lagi.
5. Infeksi/Peradangan pada Ambing :
Infeksi/peradangan pada ambing dikenal dengan nama mastitis. Mastitis adalah suatu peradangan pada tenunan ambing yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme, zat kimia, luka termis ataupun luka karena mekanis. Peradangan ini dapat mempengaruhi komposisi air susu antara lain dapat menyebabkan bertambahnya protein dalam darah dan sel-sel darah putih di dalam tenunan kambing.
6. Nutrisi/Pakan :
Jenis pakan akan dapat mempengaruhi komposisi susu. Pakan yang terlalu banyak konsentrat akan menyebabkan kadar lemak susu rendah. Jenis pakan dari rumput-rumputan akan menaikan kandungan asam oleat sedangkan pakan berupa jagung atau gandum akan menaikkan asam butiratnya. Pemberian pakan yang banyak pada seekor sapi yang kondisinya jelek pada waktu sapi itu dikeringkan dapat menaikkan hasil susu sebesar 10 – 30 %. Pemberian air adalah penting untuk produksi susu, karena susu 87 % terdiri dari air dan 50 % dari tubuh sapi terdiri dari air. Jumlah air yang dibutuhkan tergantung dari :
a. Produksi susu yang dihasilkan oleh seekor sapi
b. Suhu sekeliling
c. Pakan yang diberikan
Perbandingan antara susu yang dihasilkan dan air yang dibutuhkan adalah 1 : 36. Air yang dibutuhkan untuk tiaphari bagi seekor sapi berkisar 37 – 45 liter.
7. Lingkungan :
Pengaruh lingkungan terhadap komposisi susu bisa dikomplikasikan oleh faktor-faktor seperti nutrisi dan tahap laktasi. Hanya bila faktor-faktor seperti ini dihilangkan menjadi memungkinkan untuk mengamati pengaruh musim dan suhu. Biasanya pada musim hujan kandungan lemak susu akan meningkat sedangkan pada musim kemarau kandungan lemak susu lebih rendah. Produksi susu yang dihasilkan pada kedua musim tersebut juga berbeda. Pada musim hujan produksi susu dapat meningkat karena tersedianya pakan yang lebih banyak dari musim kemarau.
Suhu dan kelembaban mempengaruhi produksi susu. Selain itu pada lingkungan dengan kelembaban yang tinggi sangat mempengaruhi timbulnya infeksi bakteri dan jamur penyebab mastitis. Suhu lingkungan yang tinggi secara jelas menurunkan produksi susu, karena sapi menurunkan konsumsi pakan, tetapi belum jelas apakah suhu mempengaruhi komposisi susu.
8. Prosedur Pemerahan Susu :
Faktor yang mempengaruhi produksi susu antara lain adalah jumlah pemerahan setiap hari, lamanya pemerahan, dan waktu pemerahan. Jumlah pemerahan 3 – 4 kali setiap hari dapat meningkatkan produksi susu daripada jika hanya diperah dua kali sehari. Pemerahan pada pagi hari mendapatkan susu sedikit berbeda komposisinya daripada susu hasil pemerahan sore hari. Pemerahan menggunakan tangan ataupun menggunakan mesin tidak memperlihatkan perbedaan dalam produksi susu, kualitas ataupun komposisi susuUntuk lebih jelas, maka komponen-komponen air susu akan diuraikan satu persatu sebagai berikut :
1. Air :
Air susu mengandung air 87.90%, yang berfungsi sebagai bahan pelarut bahan kering. Air didalam air susu sebagian besar dihasilkan dari air yang diminum ternak sapi.
2 Lemak :
Air susu merupakan suspensi alam antara air dan bahan terlarut didalamnya. Salah satu diantaranya adalah lemak. Kadar lemak didalam air susu adalah 3.45%. Kadar lemak sangat berarti dalam penentuan nilai gizi air susu. Bahan makanan hasil olahan dari bahan baku air susu seperti mentega, keju, krim, susu kental dan susu bubuk banyak menagndung lemak.
Susunan lemak susu terdiri dari lemak majemuk, merupakan lemak murni dan terdiri dari 3 molekul asam lemak terikat pada suatu molekul glycerine. Lemak asam susu terdiri dari campuran beberapa asam lemak antara lain :
a. Lemak sederhana yang memiliki asam lemak sama
b. Lemak campuran yang terdiri dari beberapa macam lemak terikat pada glyserine
Asam lemak yang terdapat didalam air susu terdiri dari 2 golongan yaitu asam lemak yang dapat larut (butyric, caproic,caprilic dan capric ) serta asam lemak yang tak dapat larut (leuric, myristic, palmitic dan oleic).
BJ air susu 0.93 dan lebih ringan dari BJ air. Hal ini memungkinkan lemak mengapung atau membentuk lapisan di permukaan air susu apabila air susu didinginkan.
Air susu yang baru diperah mempunyai temperatur sama dengan temperatur badan sapi yaitu 370 C , dalam hal ini lemak terdapat dalam bentuk cair. Beberapa jam setelah pemerahan temperatur air susu menurun menjadi 330C dan pada saat ini pembekuan lemak dimulai, dan akan membeku seluruhnya pada temperatur 230C. Titik beku dan titik cair lemak air susu berkisar antara 330 C sampai 230 C.
Warna putih air susu ditentukan oleh lemak air susu. Lemak susu mempunyai alat refleksi terhadap sinar matahari. Bentuk lemak di dalam air susu merupakan butir yang disebut globuler.
Besar kecilnya butir lemak ditentukan oleh kadar air yang ada didalamnya. Makin banyak air maka makin besar globuler dan keadaan ini dikhawatirkan akan menjadi pecah. Bila globuler pecah maka air susu disebut pecah. Air susu yang
©2004 Digitized by USU Digital Library 10
pecah tidak dapat dipisahkan lagi krimnya, dan tidak dapat dijadikan sebagai bahan makanan. Globuler air susu mudah menyerap bau dari sekitarnya, oleh karena itu jangan simpan air susu pada tempat yang berbau.
Buckle et al., (1987) menyatakan kerusakan yang dapat terjadi pada lemak susu merupakan sebab dari berbagai perkembangan flavor yang menyimpang dalam produk-produk susu, seperti:
a. Ketengikan, yang disebabkan karena hidrolisa dari gliserida dan pelepasan asam lemak seperti butirat dan kaproat, yang mempunyai bau yang keras, khas dan tidak menyenangkan.
b. Tallowiness yang disebabkan karena oksidasi asam lemak tak jenuh.
c. Flavor teroksidasi yang disebabkan karena oksidasi fosfolipid.
d. Amis/bau seperti ikan yang disebabkan karena oksidasi dan reaksi hidrolisa.
3. Protein :
Kadar protein didalam air susu rata-rata 3.20% yang terdiri dari : 2.70% casein (bahan keju), dan 0.50% albumen. Berarti 26.50% dari bahan kering air susu adalah protein. Didalam air susu juga terdapat globulin dalam jumlah sedikit. Protein didalam air susu juga merupakan penentu kualitas air susu sebagai bahan konsumsi.
Albumin ditemukan 5 gram per kg air susu, dalam keadaan larut. Didalam pembentukan keju, albumin memisah dalam bentuk whey. Beberapa hari setelah induk sapi melahirkan, kandungan albumin sangat tinggi pada air susu dan normal setelah 7 hari.
Pada suhu 640 C albumin mulai menjadi padat, sifat ini identik dengan sifat protein pada telur. Akan tetapi karena kadar albumin yang sedikit maka pada pasteurisasi tidak dapat ditemukan, bahkan pada pemasakan yang dapat dilihat hanya merupakan titik-titik halus pada dinding dan dasar panci.
3. Laktosa :
Laktosa adalah bentuk karbohidrat yang terdapat didalam air susu. Bentuk ini tidak terdapat dalam bahan-bahan makanan yang lain. Kadar laktosa di dalam air susu adalah 4.60% dan ditemukan dalam keadaan larut. Laktosa terbentuk dari dua komponen gula yaitu glukosa dan galaktosa. Sifat air susu yang sedikit manis ditentukan oleh laktosa. Kadar laktosa dalam air susu dapat dirusak oleh beberapa jenis kuman pembentuk asam susu.
Pemberian laktosa atau susu dapat menyebabkan mencret atau gangguan-gangguan perut bagi orang yang tidak tahan terhadap laktosa. Hal ini disebabkan kurangnya enzim laktase dalam mukosa usus.
4. Vitamin dan enzim :
Kadar vitamin di dalam air susu tergantung dari jenis makanan yang diperoleh ternak sapi dan waktu laktasinya. Vitamin diukur dengan satuan International Units (IU) dan mg. Vitamin yang terdapat didalam lemak disebut ADEK, dan vitamin yang larut didalam air susu, tergolong vitamin B komplek, vitamin C, Vitamin A, provitamin A dan vitamin D. Vitamin yang larut didalam air susu yang terpenting ialah vitamin B1, B2, asam nikotinat dan asam pantotenat. Bila air susu dipanaskan/dimasak, dipasteurisasi atau disterilisasi maka 10 – 30 % vitamin B1 akan hilang, vitamin C akan hilang 20 – 60 %.
Enzim berfungsi untuk mengolah suatu bahan menjadi bahan lain dengan jalan autolyse. Enzim yang terkenal adalah peroxydase, reductase, katalase dan phospatase. Dengan adanya pemanasan, enzim tidak akan berfungsi lagi.
G.Pengolahan Susu
Proses
pengolahan susu bertujuan untuk memperoleh susu yang beraneka ragam,
berkualitas tinggi, berkadar gizi tinggi, tahan simpan, mempermudah pemasaran
dan transportasi, sekaligus meningkatkan nilai tukar dan daya guna bahan mentahnya. Proses pengolahan susu selalu berkembang sejalan dengan berkembangnya ilmu
dibidang tekologi pangan. Dengan demikian semakin lama akan semakin banyak
jenis produk susu yang dikenal. Hal ini sangat menggembirakan dan merupakan
langkah yang sangat tepat untuk mengimbangi laju permintaan pasar.
- TEKNOLOGI
PENGOLAHAN SUSU
Dari perkembangan teknologi pengolahan
susu maka di dapatkan berbagai produk pangan asal dari susu sapi , antara lain
yaitu:
- Yoghurt adalah produk yang diperoleh dari susu yang telah
dipasteurisasi kemudian difermentasi dengan bakteri tertentu sampai
diperoleh keasaman, bau dan rasa yang khas, dengan atau tanpa penambahan
bahan lain yang diizinkan.
- Karamel adalah kembang gula yang mempunyai tekstur lunak dan merupakan
produk susu.
- susu penuh kental manis (Sweetened Condensed Whole Milk), ialah susu
yang sesudah dicampur dengan gula (sakarosa), kemudian dilakukan pemanasan
atau pemekatan di dalam kaleng-kaleng tertutup selama beberapa waktu pada
suhu sekurang-kurangnya 100OC.
- Butter atau mentega dari susu adalah suatu masa dari susu hasil
penumbukan (churring) krim atau susu segar (whole milk).
- Keju adalah suatu substansi yang dibentuk oleh koagulasi atau
penggumpalan susu hewan menyusui oleh rennet atau oleh semacam enzim
proteolitik.
- Kefir juga merupakan susu asam seperti yoghurt, namun rasanya lebih
segar karena selain asam juga sedikit terasa alkohol dan soda.
- Es krim merupakan suatu produk makanan beku yang dibuat dari campuaran
produk susu, bahan kering tanpa lemak ditambah gula, bahan penyedap, bahan
penstabil, kuning telur, dengan atau tanpa buah-buahan dan kacang-kacangan
dengan kadar lemak minimal 8%.
Penyebaran produksi susu akan
lebih mempercepat perbaikan gizi masyarakat. Dengan penyebaran ilmu pengolahan
teknologi pengolahan susu hingga pelosok desa akan menopang penggunaan
pengolahan susu pasteurisasi. Teknologi pengolahan susu yang telah dikenal
rakyat seperti pengolahan dadih dan danke di Sumatera Barat dan Sulawesi
Selatan dapat mempercepat dan merupakan cikal bakal diversifikasi penggunaan
susu.
Diversifikasi air susu sapi ini
bisa dikelola secara home industry maupun secara besar-besaran, dan sudah
barang tentu untuk yang kedua ini diperlukan peralatan yang serba praktis dan
modern, agar diperoleh hasil yang maksimal.
2.
PEMBUATAN MENTEGA DARI SUSU
Mentega adalah produk olahan susu yang bersifat plastis, diperoleh melalui
proses pengocokan (Churning) sejumlah krim. Mentega yang
baik harus mengandung lemak minimal 80%. Kadar air maksimal 16%, kadar protein
maksimal 1% dan MSNF (Milk Solids-Non-Fat) tidak lebih dari 2 %. Warna kuning
pada mentega disebabkan oleh zat warna β karoten dalam krim. Nilai
gizi mentega banyak tergantung pada kandungan lemak dan vitamin-vitamin yang
larut dalam lemak. Mentega merupakan sumber vitamin A yang sangat baik dan
merupakan makanan yang berenergi tinggi (7-9 kalori/g), tidak mengandung
laktosa dan mineral serta berprotein rendah
PROSES PEMBUATAN MENTEGA DARI SUSU
Bahan dan alat :
Susu murni
Separator, adukan, Termometer.
Cara Pembuatan mentega :
1. Kepala susu yang telah dipisahkan lalu dipasteurisasi pada suhu 70 C
selama 30 menit atau pada 80øC selama 1 menit. Kemudian
didinginkan hingga mencapai suhukamar.
2. Tambahkan starter sebanyak 3% dan diaduk hingga rata. Biarkan pada
suhu kamar hingga kepala susu menjadi asam biasanya memerlukan waktu sekitar 6
jam, dan disimpan dalam lemari es, didinginkan hingga suhu mencapai ñ 4øC.
3. Setelah dingin dan kental lalu ditumbuk (churned) untuk memisahkan
bahan mentega dari susu tumbuknya (buttermilk). Bahan mentega dicuci dengan air
dingin (air es) beberapa kali untuk membersihkan sisa-sisa susu tumbuk.
4. Kemudian bahan mentega yang masih tinggi kadar airnya itu diuli untuk
mengeluarkan air yang berlebih, dan mengkompakkan butir-butir mentega menjadi
suatu massa yang lebih padat (kompak). Kadar air yang diperlukan dalam mentega
sekitar 16-17%. Pengulian dilakukan beberapa kali hingga kadar air yang
dipersyaratkan tercapai.
5. Setelah kadar air memenuhi, lalu ditambah garam (garam halus),
0,5-2% diaduk hingga rata. Setelah selesai penggaraman mentega dibungkus. Warna
mentega alami didapat, karena makanan hijauan yang banyak mengandung carotene
yang berwarna kuning dan larut dalam lemak.
- PEMBUATAN
KEJU DARI SUSU
Prinsip pembuatan keju adalah fermentasi asam laktat yang terdapat dalam
susu.Proses pembuatan keju diawali dengan memanaskan/pasteurisasi susu, kecuali
pada jenis2 keju tertentu seperti Emmentaler dari Swiss yang menggunakan susu
mentah. Kemudian zat pembantu penggumpalan (rennet, sejenis enzim penggumpal
yang biasa terdapat dalam lambung sapi dan/atau bakteri yang dapat mengasamkan
susu) ditambahkan.
Setelah setengah sampai 5 jam, susu akan menggumpal sehingga terpisah
menjadi sebuah gumpalan besar (curd) dan bagian yang cair (whey). Gumpalan ini
dipotong-potong menjadi bagian-bagian yang sama besar, agar bagian yang cair
(whey) semakin banyak yang keluar. Semakin kecil potongan, semakin sedikit
cairan yang dikandung oleh keju nantinya, sehingga keju semakin
keras.Potongan-potongan ini kemudian diaduk, dipanaskan, dan kadang dipress
untuk menghilangkan lebih banyak lagi cairan.
Setelah itu, bakal keju yang masih lunak itu dibubuhi jamur dan dibentuk.
Lalu diolesi atau direndam dalam air garam untuk membunuh bakteri merugikan
yang mungkin terdapat di dalamnya. Ada juga jenis keju yang direndam sebelum
diberi jamur.Terakhir, bakal keju dimatangkan dalam kondisi tertentu. Semakin
lama dimatangkan, keju akan semakin keras
PROSES PEMBUATAN KEJU DARI SUSU
Bahan dan alat :
1 galon susu murni (bukan ultra-dipasteurisasi)
1 / 4 tablet Rennet
1 / 4 cup air dingin (klorin
gratis)
2 t. asam sitrat
1-2 t. keju garam
Stock Pot (bukan aluminium)
Sendok stainless steel
Mangkuk microwave
Microwave
Thermometer
Cara pembuatan keju :
1. Crush
1 / 4 tablet Rennet dalam 1 / 4 cup air dingin dan sisihkan.
2. Tempatkan saham baja stainless panci di atas kompor dan tuangkan
dalam galon susu. Hidupkan kompor ke api sedang.
3. Taburkan 2 sendok teh asam sitrat dalam susu dan aduk
perlahan-lahan susu sampai suhu 88 derajat.
4. Setelah mencapai 88 derajat, tambahkan campuran Rennet dan air. Aduk
perlahan dan kadang-kadang sampai mencapai 105 derajat. Matikan api. Anda harus
melihat keju dan whey memisah.
5. Terbentuklah keju yang berbentuk padat.
- PEMBUATAN
YOGHURT DARI SUSU
Yoghurt adalah produk yang diperoleh dari susu yang telah dipasteurisasi
kemudian difermentasi dengan bakteri tertentu sampai diperoleh keasaman, bau
dan rasa yang khas, dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diizinkan.
Persyaratan yoghurt menurut SNI (1995) adalah dengan penampakan kental-semi
padat, bau dan rasa yang normal serta memiliki kandungan lemak maks. 3,8%, BKTL min. 8,2, Protein min. 3,5, Abu min. 1,0 dan Jumlah asam laktat
0,5-2,0% (b/b). Yoghurt harus memiliki kandungan lemak susu minimal 3,0%, Bahan
Kering Tanpa Lemak (BKTL) min. 8,2% (b/b), sedangkan yoghurt dengan sebagian
skim harus memiliki kandungan lemak min. 0,5% (b/b) dan yoghurt yang dibuat
dengan susu skim harus memiliki kandungan lemak maks. 0,5% (b/b) (Codex, 1975).
Bakteri yoghurt, Lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus dan Streptococcus
thermophilus atau beberapa bakteri asam laktat lain seperti Leuconostoc
messenteroides, Lactococcus lactis, Lactobacillus acidophilus,
Bifidobacteria dan species lainnya secara alami terdapat dalam susu
atau sengaja ditambahkan sebagai kultur starter sebanyak 2-5%. Suhu fermentasi
optimum adalah 42-45°C selama 3-6 jam, hingga dicapai pH 4,4 dan kadar asam
tertitrasi mencapai 0,9-1,2%.
PROSES PEMBUATAN YOGHURT DARI SUSU
Bahan:
- Susu sapi atau susu bubuk
- Bakteri starter lactobacillus
bulgaricus dan Streptococcus
- Flavour buatan (bila perlu)
- Gula atau sirup (bila perlu)
Alat:
- panci email
- kompor
- alat pengaduk
- inkubator (bila tersedia)
Cara pembuatan yoghurt :
Susu murni à Diencerkan
dengan air hangat à Dipanaskan
sampai mendidih à+ susu skim
bubuk à + gula
6-8% dari susu segar à Diaduk dengan rata àDidinginkan hingga mencapai 45 C à + bakteri starter yoghurt à Dimasukkan ke dalam botol à steril atau gelas plastik à inkubasi 12-14 jam pada susu ruang à YOGHURT
BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Susu yang merupakan minuman kaya manfaat ini memiliki
berbagai jenis dan macamnya. Susu juga dapat diolah menjadi berbagai jenis
makanan lain seperti yogurt, mentega, keju, es krim dll. Dari segi manfaat susu
memiliki banyak kelebihan seperti mencegah penyakit darah tinggi dan jantung,
menetralisir racun , menambah kekuatan tulang dll. Selain itu susu juga mampu
diserap dengan sempurna dalam tubuh yakni sebesar 100%. Oleh karena itu susu
dikatakan sangat baik dinyatakan sebagai bahan makanan. Susu yang baik adala
apabila jumlah bakteri yang ada sedikit, tidak mengandung spora mikroba
pathogen, bersih yaitu tidak mengandung debu atau kotoran lainnya, mempunyai
cita rasa yang baik dan tidak dipalsukan.
4.2 Saran
Dengan
mengetahui segala hal tentang susu, terutama manfaatnya bagi kesehatan dan
tubuh kita, hendaknya kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Dalam bidang
kesehatan dan peternakan, hendaknya kita selalu mengonsumsi susu dengan porsi
yang cukup setiap hari agar kita bisa merasakan manfaatnya sesuai yang
disebutkan dalam penjelasan di atas. Dengan menerapkan penggunaan susu secara
bijaksana, kita dapat memperoleh hasil yang maksimal.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar